Jembatan sementara dari batang pohon kelapa tidak mampu menahan beban dari truk yang bermuatan penuh beras dan barang campuran milik Toko Berdikari akhirnya mengalami nasib naas dari arah subaim menuju Buli kemarin pagi di Uniuni (29/8/14).

“Sebelumnya Truk PT BELA terbalik pada malam hari dan kemudian pagi hari sekitar jam 09.15 WIT truk ini mengalami nasib yang serupa, menyeberangi jembatan sementara yang sudah lapuk akhirnya patah. Truk tersebut telah dibantu evakuasi oleh alat berat PT BELA dan syukurlah tidak ada korban jiwa.”, tutur mas Kris staf CSR Antam Unit Buli yang saat itu kebetulan berada di lokasi kejadian.

Lanjutnya, “saat itu juga jembatan tersebut diperbaiki dengan batang pohon kelapa (sementara) agar perjalanan darat dari subaim ke buli bisa seperti semula”.

Jembatan Miring

Setelah Uniuni anda akan menjumpai jembatan terkenal yang dibangun oleh Tony Laos di era Bupati Welhelmus Tahalele, yang saat ini dalam kondisi nyaris ambruk, hanya keajaiban yang berhasil menahannya. Batin anda bergejolak, mungkin.. hanya mungkin suara kecil anda mengatakan, “ada sesuatu yang mencurigakan di sini…” :p

Sungguh ironis melihat negeri dollar dengan Sumber Daya Mineral nya yang luar biasa, namun pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan sungguh bertolak belakang. Tengok saja jalan utama di Buli, beberapa spot mengalami kerusakan parah. Padahal ini merupakan syarat mutlak untuk kemajuan suatu daerah. Mampu menekan biaya logistik dan resiko kecelakaan bagi pengguna jalan. Tidak heran kalau perjalanan dari Buli – Sofifi sekitar 4 jam, anda harus merogoh kocek sekitar Rp. 250 – 300 rb per orang. Hampir setara dengan harga tiket pesawat dari Buli – Ternate dengan waktu tempuh sekitar 20 menit, harga tiket dari 256 rb – 346 rb per orang. Kaget? Haizz.. masih banyak kejutan lainnya di Buli. Wataw!! :p

 

Advertisements