Menteri BUMN
Menteri BUMN dan Pemda

Buli, Di sela kunjungan Menteri BUMN melakukan penyerahan simbolis program CSR dari Antam ke masyarakat, beliau menyampaikan bahwa sebaiknya pemerintah daerah mengevaluasi kembali pemberian CSR yang kecil-kecil, lebih baik CSR sekali besar tapi yang paling dibutuhkan masyarakat. Dari pengamatan beliau secara sekilas, listrik diminta prioritaskan.

“Saya sudah koordinasi dengan Pak Bupati bagaimana bila lahan yang sudah habis penambangan di tanam pohon kaliandra. Pohon kaliandra adalah pohon energi. Karena kalo batangnya di tebang, batangnya itu mempunyai kalori di atas 4000 seperti batubara. Dalam setahun udah bisa di tebang, tidak perlu tanam lagi. Pohon itu tumbuh sendiri dan setiap 6 bulan udah bisa di tebang lagi. Nah itu untuk listrik. CSR nya untuk beli bibit tanaman, diberikan pada rakyat, biar rakyat tanam. Nanti rakyat menjual kayu itu kepada perusahaan pembangkit listrik. Pembangkit itu sendiri murah hanya sekitar 20 M untuk kapasitas 2 MW”, kata Dahlan.

Beliau juga menyampaikan bahwa perlu ada BUMN yang membeli hasil ikan dan membina para nelayan. Dirut PT IKI dan PT PAN (BUMN) berdomisili di Makassar yang menemani beliau dalam kunjungan ini juga diarahkan untuk mempertimbangkan pengiriman kapal yang memiliki cold storage sebesar 150 ton ke Buli untuk membeli hasil ikan di haltim, yang nanti dapat dikirim ke pabrik pengolahan ikan di Sorong.

Sementara itu, mengenai pabrik nikel beliau mengatakan Antam tetap akan menambang di sini 1,2 jt ton untuk dikirim ke Pomala, 1,2 jt ton untuk pabrik. Tapi bukan pabrik yang kita rencanakan ini (FHT). Itu harus lihat keadaan, mungkin tahap 2. Menunggu itu mungkin terlalu lama. Terima kasih buat Pak Tato (Dirut Antam) yang memiliki pikiran yang cerdas. Terobosan yang baik. Tidak salah memang pujian pak menteri ke dirut PT Antam, untuk langkah strategis yang dibuat dengan mengusulkan pembangunan pabrik pengolahan nikel kadar rendah (30/8/14).

——————————

Tidak lama lagi kita akan menyaksikan Kota Buli “Negeri Dollar yang tidak pernah tidur” πŸ˜€

 

Advertisements